Cinta Dalam Hati

Gadis itu bernama Vika. Ia adalah gadis yang baik, ramah, lembut dan cantik. Tapi ia agak susah untuk bergaul dengan teman-temannya, ia sedikit pemalu dan bukan gadis yang pintar bicara. Semua yang ingin ia katakan jarang sekali ia ucapkan. Ia lebih sering menuangkannya dalam sebuah tulisan. Ya dia sangat hobi menulis.
Vika terlahir dalam sebuah keluarga yang Lumayan berkecukupan. kedua orangtuanya adalah seorang guru yang sudah PNS. Tapi sayangnya di keluarganya ia sangat susah mendapatkan kebahagiaan. Ia lebih sering mendapatkan sebuah penyiksaan baik secara perlakuan fisik maupun perkataan. Vika hanya bisa diam menghadapi semua cobaan itu. Karena ia percaya Tuhan pasti punya rencana yang sangat baik untuk dirinya. Ia mencoba melewati semua rintangan itu dengan tersenyum sampai pada suatu saat ia bertemu dengan seorang pria bernama Dicka. Dicka telah membuat vika jatuh cinta. Ya dia laki-laki yang sangat istimewa buat Vika.
“Tuhan… dia begitu spesial buatku.. sungguh.. Dia berbeda dari cowok-cowok yang aku kenal.” gumam vika…
di dalam kelas terlihat vika sedang melamun memikirkan Dicka.
“Cie…cie… yang lagi jatuh cinta kayaknya selalu terbayang-bayang nih..” ledekan teman-temannya membangunkan Vika dari lamunannya.
“iih.. apaan sih kalian. bisanya ganggu aja nih..” Vika yang tersadar dari lamunannya langsung tersipu malu mendengar ledekan teman-temannya.
“Iya nih kenapa ya mikirin Dicka terus kangeeen. Sayang ya dia nggak satu sekolah sama gw.”
“Jatuh cinta berjuta rasanya… Oh Dicka tersayang.” temannya kembali mengejeknya.
“Ya udah kalo kangen telpon dong. Setidaknya kan kalo udah denger suaranya bisa mengobati rasa kangen.”
“Maunya sih gitu tapi kan dia udah punya pacar. Nanti kalo ceweknya yang angkat bisa gawat deh urusannya.”
Yah cinta bertepuk sebelah tangan nih ceritanya? hehee… celoteh temannya.
“Ah udah ah jangan bahas ini lagi. Laper ke kantin aja Yuk.
Akhirnya Vika dan kedua temannya pergi ke kantin.
********
Tak terasa udah hampir 3 bulan Vika memendamr asa cintanya pada Dicka. Terkadang Vika ingin Dicka tahu akan perasaannya, tapi disisi lain seperti ada yang menghalanginya. Mungkin lebih baik jadi “Secret Admirrer”.
Dn akhirnya semua itupun benar-benar hanya menjadi sebuah cinta yang terpendam. Vika sama sekali tak mengatakan perasaannya pada Dicka sampai akhirnya Dicka pindah ke Bandung dan mereka pun Lost contact. Tapi semua itu tak emrubah perasaan cintanya pada Dicka, meskipun sudah hampir 3 tahun ia tak bertemu dengan Dicka tapi rasa Cintanya tak pernah hilang sampai Cinta itu ia pendam selama 4 tahun.

Sudah Puas, Bella?

“Akhirnya pergi juga…” seorang gadis memandangi ayah dan ibunya yang berangkat bersama mobil keluarga mereka. Ia menunggu saat-saat rumahnya sepi, tinggal ia dan adiknya. Ia langsung menutup pintu rumah, semuanya termasuk jendela rumah yang bentuknya kuno itu. Catnya yang sudah banyak yang mengelupas, beberapa sarang laba-laba di sudut-sudut dindingnya.
“Kenapa ditutup, Kak? Papa dan mama ke mana?” adiknya bertanya.
“Diam aja, Dik!” gadis itu menyuruh si adik diam, dan membuat adiknya penasaran. Ia melangkah cepat menuju kamarnya yang terletak agak di belakang rumah, keadaan rumah itu selalu gelap walaupun di siang hari. Kamar gadis itu memang lebih gelap dibanding kamar-kamar lainnya di rumah itu. Lihat saja meja makan yang kosong itu, sesekali kursi di dekatnya bergerak, horor, memang. Tapi itulah kehidupan rumahnya.
Pintu kamarnya agak sedikit rapuh, jendela kamar bergoyang walau tak ada angin, tapi mungkin memang sebenarnya harus secepatnya diganti.
Adiknya mengejar langkah kakaknya yang terburu-buru itu.
“Kak, Kakak kenapa? Aneh sekali!”
“Ssssttt….” si kakak menyuruh adik diam, menandakan keseriusan yang amat sangat.
“Kkk… kenapa, Kak?” adiknya bertanya polos.
“Sini, ayo Galih ikut saja ke dalam!” ajak si kakak.
Adiknya menurut. Ia masuk ke kamar kakaknya yang sekali lagi gelap dari biasanya. Beberapa pakaian digantung sembarangan di belakang pintu, ranjang tua yang letaknya agak di pojok dan lemari kuno di sebelahnya yang tak pernah dibuka beberapa tahun ini menjadi latarnya. Di atas ranjang itu terlihat selimut berwarna merah marun, yang kusut seperti tak pernah dilipat. Adiknya sudah paham dengan kakaknya yang berantakan itu.
“Ada apa, Kak?”
Kakaknya tidak menjawab. Aneh, kakaknya mengambil selimut berwarna merah marun itu dan melipatnya. Adiknya melihatnya dengan rasa tak percaya. Apa yang sebenarnya terjadi pada kakaknya hari itu?
“Ke sini,” si kakak mengajak adiknya untuk melihat apa yang ia letakkan di atas ranjangnya. Kertas.
“Kertas ini untuk.. apa?”
“Untuk berteman..” kakaknya tersenyum.
Adiknya menjadi sedikit takut. Kakaknya memang benar-benar sangat aneh.
“Untuk berteman bagaimana, Kak?”
Kakaknya tersenyum lagi. Tampak dari senyumnya ada aroma jahat. Hawanya seperti iblis. Namun adiknya belum dapat menerka kejadian apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Lihat ini….. Lih,” si kakak menulis di kertas yang sudah disiapkannya di atas ranjang, di bawah selimut merah marun tadi. Adiknya memperhatikannya menulis 26 huruf-huruf abjad yang sewaktu TK dulu ia pelajari. A.. B.. C.. sampai yang terakhir Z. Dilanjutkan angka mulai dari 0..1..2..3.. sampai 9.
“Kak, ini apa?” adiknya mencoba bertanya.
“Diam dulu!!” si kakak agak membentaknya. Si kakak pun melanjutkan menggambar di atas kertas tipis yang agak kusut itu. Adalah gambar 3 persegi panjang yang bentuknya seperti batu nisan. Juga gambar sebuah rumah kecil dengan sumur di sebelahnya. Menyeramkan.
“Ini kuburan..” katanya. “Dan ini rumah teman kakak.”
“Seram ya, Kak..”
“Nah, Dik, sekarang coba kamu bilang…” pinta si kakak sambil membisikkan kata-kata aneh ke telinga adiknya.
Si adik masih menurut. Ia ucapkan kata-kata yang dipinta kakaknya. Dengan beberapa detik yang terasa semakin cepat…
Muncul bayangan sesosok wanita. Si adik bisa melihatnya lebih jelas. Bayangan itu tersenyum. Senyumnya jauh lebih mengerikan dibanding hantu wanita ketika ia menonton film horor di ruang tengah.
Hembusan nafas si adik terdengar jelas. Ia sangat terkejut. Tapi ia tak mampu bergerak dari tempat yang mengerikan itu. Ia tak mampu melakukan apa-apa. Tangannya beku. Kakaknya melihat bayangan itu dengan senyum yang sama mengerikannya.
Pelan-pelan si adik mendengar gumam kakaknya pada dirinya sendiri.
“Berhasil.”
Si adik memeluk kakak perempuannya dengan erat.
***
Bangunan sekolah yang bertingkat 3 itu tampak seperti istana tempat para makhluk penghisap darah tinggal. Atap-atapnya beberapa ada yang belum diperbaiki, saat itu awan seperti akan jatuh menimpa bumi, dengan warna pekatnya yang membawa kegelisahan dan ketakutan pada sore itu. Semuanya terasa lebih gelap, begitu yang ada di pikiran Aina, gelap, dan gelap. Ia sedikit ketakutan dengan keadaan di sekitarnya, pohon beringin tempat ia berteduh saat ini seperti menahannya untuk pulang. Ia berpikir ulang. Apakah ia akan menembus hujan dan membiarkan awan mengerahkan titik-titik tajamnya itu membasahi tubuhnya? Atau ia tetap tinggal bersama akar-akar beringin yang menggantung? Ketika akar-akar itu bergoyang sendiri meski angin tak menggodanya?
Sesekali ia tengadahkan tangannya ke langit, seperti bertanya kepada sore, apakah hujan akan berhenti? Ia perhatikan sebuah payung yang seakan disediakan Tuhan di depannya. Di dekat pos satpam yang tidak dijaga. Akhirnya ia ambil payung itu dan mencoba berlari menantang hujan. Ia harus keluar dari jebakan hujan sore ini.
Ia mulai melangkahkan kakinya menerpa air hujan yang ganas. Petir seperti mencoba menghentikan perjalanannya untuk pulang. Dengan mata sesekali terpejam ia tetap mencoba melangkahkan kakinya dan menghentikan ketakutannya. Ia harus pulang, dan ia memang harus pulang sore ini. Percikan air karena langkahnya tak akan menghentikan keinginannya untuk pulang. Waktu seakan berjalan lebih lambat dari biasanya, belum sampai satu per sepuluh perjalanan pulang ditempuhnya. Masih di depan sekolah, tapi mimpi buruknya ini seakan sudah berjalan selama seratus tahun. Hingga akhirnya..
“Hei, Galih! Kau mengagetkanku saja!!” seru Aina ketika Galih menyambar bahunya diam-diam. Galih menggunakan payung berwarna hitam untuk melindunginya dari hujan, seperti payung kematian.
Galih tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. Ia menatap Aina.
“Gal, kau kenapa sih? Kau mengagetkanku dan kau tidak menjawab apa-apa, dan….” kalimat Aina terpotong ketika menyadari sesuatu, “Kau tidak pulang?”
“Belum,” jawabnya singkat. Suasana menjadi berbeda.
“Jadi? Kenapa? Kenapa belum pulang?”
“Aku mau main,” ucap Galih. “Aku mau main sama kamu.. di sini..”
“Maksud.. maksudnya??”
“Aku mau ngajak kamu main…”
“Aku tidak mengerti!”
“Ayo….!!” Galih tiba-tiba menyambar tangan Aina yang masih merasa ngeri dengannya. Ia mengajaknya masuk lagi melewati gerbang sekolah.
“Galih! Galih! Hei! Gal! Kau mau ajak aku ke mana?”
“Ayo, main.”
“Hoi! Aku mau pulang, Gal!” Aina melepaskan tangannya dari cengkeraman Galih. “Sudah! Aku tidak mau main!”
“Jangan pulang dulu, Na,” Galih menatapnya. Tidak seperti tadi, ia yang memaksa Aina untuk ikut dengannya kini berjalan sendiri ke arah kelas mereka yang melewati koridor gelap di mana lampu yang biasa menjadi penerangnya tidak menyala. Meninggalkan Aina yang masih kebingungan di belakangnya.
“Galih? Hoi! Kau mau kemana?”
Galih tidak menjawab. Ia terus berjalan.
Aina mengikutinya, ia ingin tau apa yang terjadi pada Galih. Dan Galih mau main apa? Bersamanya? Tapi mengapa ia tiba-tiba berubah jadi meninggalkannya? Karena penasaran, ia terus mengikuti Galih sampai ke kelas. Ia ikut masuk ke dalam kelas mereka yang di dalam pikiran Aina lebih mengerikan dibanding sebuah kamar mayat. Itu bukan Galih biasanya.
“Aina…” kata Galih sambil tersenyum. Senyumnya tidak seperti biasa.
“Gal, emangnya mau main apa sih?”
“Ini, aku mau ajak kamu main sama temanku..”
“Te.. teman?”
Galih tersenyum lagi. Ia duduk di bangkunya yang terletak di pojok kelas. Di atas mejanya, terletak pensil, kertas, dan beberapa benda aneh yang tidak Aina ketahui. Aina menghampirinya pelan-pelan. Ia melihat Galih yang ekspresinya tidak seperti biasa. Benar-benar tidak biasa. Pada kertas di atas meja Galih itu, tertulis 26 huruf, A sampai Z dan angka 0 sampai 9, 3 buah persegi panjang dan gambar sebuah rumah kecil dengan sumur di sebelahnya. Mengapa Galih yang biasanya ramah malah berubah jadi dingin dan mengerikan begini?
“Ini gambar apa?”
“Yang ini….” Galih menunjuk gambar rumah itu, “… ini rumah temanku,” lalu ia menunjuk 3 persegi panjang. “Dan ini rumah temanku sekarang.”
“Kok seperti…..” pertanyaan Aina di potong Galih.
“Kuburan? Iya, ini kuburan, Na.”
Aina terdiam.
“Kamu mau main sama temanku? Yah, aku sendiri tak tahu siapa dia.”
Aina masih tidak mengerti.
“Yang jelas dia sudah meninggal,” ucap Galih.
“Aku masih tidak paham!! Ini apa!”
Galih mengucapkan kata-kata aneh, “Little Angel, Little Angel, Little Angel..”
“Kata-kata apa itu?”
“Little Angel, Little Angel, Little Angel…”
“Gal?”
“Little Angel, Little Angel, Little Angel…”
“Galih… ada apa…”
Tiba-tiba pensil yang dipegang Galih saat itu bergetar. Galih tersenyum.
“Temanku datang!”
“Mana??!”
Galih menunjuk tangan kanannya yang memegang pensil, dengan tangan kirinya. “Ini temanku.”
Aina mendekat dan duduk di sebelah Galih, ia masih penasaran ada apa sebenarnya. Ia menyentuh pensil yang bergerak sendiri di tangan Galih itu dengan telunjuknya dan ia memang merasakan bahwa pensil itu tidak sengaja digerakkan Galih untuk menakut-nakutinya. Pensil itu memang bergerak sendiri.
“Kok bisa?”
Selama beberapa menit meraka berada dalam posisi itu. Aina memperhatikan pensil itu sampai akhirnya pensil itu tenang.
“Nah, sekarang, kita tanya… siapa namanya,” ucap Galih sambil tersenyum pada Aina.
“Siapa nama kamu?” tanya Galih kepada pensil itu. Aina masih bingung.
Pensil itu mengarahkan ujungnya yang runcing ke huruf yang tertulis di kertas itu.
“B-E-L-L-A”
“Salam kenal ya, Bella,” ujar Galih sambil tersenyum. Pensil itu mengarahkan runcingnya lagi. “I-Y-A” sebagai jawaban.
“Kamu tinggal di mana?” Galih bertanya lagi. “D-I”
“Di? Maksudnya di mana?”
Pensil yang dipegang Galih menunjuk ke arah salah satu persegi panjang yang digambar Galih dengan kasar. Itu jelas menunjukkan tempat tinggal Bella.
“Maaf ya, Bel. Aku gak bermaksud untuk menyinggungmu.”
Aina menatapi Galih dan pensilnya yang aneh itu. Ia penasaran, bukannya takut ia malah menjadi betah di tempat itu. Bella?
“Coba kamu yang tanya, Na,” pinta Galih.
“Hah? Oh, baiklah..”
Aina akhirnya bertanya.
“Kamu meninggal kenapa?” tanya Aina, pandangannya ke arah pensil itu.
“S-U-I-C-I-D-E” arah pensil itu.
“Suicide? Maksudnya bunuh diri? Kenapa?”
Galih dan Aina sama-sama mengeja huruf yang diarahkan pensil itu. “C-I-N-T-A”
“Cinta mu kenapa?” tanya Aina lagi. Ia semakin penasaran dengan teman Galih yang ia sudah duga adalah hantu itu.
Pensil itu tidak bergerak. Selama beberapa detik terlewat, tak ada jawaban apa-apa.
“Yah, Bella nya pergi,” ucap Galih pada Aina.
“Cepat sekali??”
“Mungkin dia mau istirahat.”
“Kau tau permainan itu dari siapa?” tanya Aina.
“Dari kakak..”
Aina menatap Galih yang menunduk. Galih kembali dengan keramahannya, tidak seperti tadi yang mengerikan. Di kelas mereka yang gelap itu, dengan hujan yang masih belum berhenti, Aina mendapatkan sesuatu yang baru. Sesuatu yang hidup di alam lain. Sesuatu yang menantang dan membuatnya kagum. Ia menjadi sangat tertarik dengan dunia lain, dunia Bella. Ia melupakan keinginannya untuk pulang.
***
Beberapa bulan setelah kejadian itu, Aina sudah paham dengan dunia Bella. Galih bercerita banyak tentang teman-teman hantunya dan mereka sangat akrab. Semakin lama mereka semakin mudah dalam berkomunikasi. Mereka tidak membutuhkan media kertas dan pensil lagi. Mereka sudah terbiasa dengan banyak hantu dan sekarang mereka sudah mampu berbicara langsung dengan si hantu, meski tak dapat melihat bayangannya langsung tapi mereka bisa merasakan keberadaannya. Galih yang sudah mengetahui sosok hantu, teman kakaknya dulu, sesekali bisa melihat sosok teman hantunya, walau tidak sering.
Di suatu siang Aina sedang bersama Bella bercerita-cerita, mereka duduk di bawah pohon beringin di belakang kelas mereka.
“Bel, kamu belum jawab pertanyaan kami dulu… kamu meninggal karena cinta, cinta kamu kenapa?”
“2 tahun lalu, orang yang aku cintai…. pergi.”
“Ke mana?”
“Aku tidak tahu.”
“Lalu, kenapa kamu bunuh diri?”
“Aku didorong seseorang dari lantai 3 sekolahku. Aku tidak tahu. Kakiku patah dan aku lumpuh. Orang yang dulu aku cintai dan yang aku tahu dia mencintaiku pergi dan setelahnya tidak ada yang mengerti aku. Aku sendiri dan aku tidak merasakan pentingnya hidupku. Aku mengiris tanganku sendiri karena aku tau itu yang terbaik. Lebih baik aku mati, memang. Tapi aku menyesal.”
“Bella, aku turut bersedih.”
“Tapi aku senang karena aku sudah menemuinya lagi.”
“Siapa? Orang yang kau cintai itu? Di sini?”
“Bukan. Hanya penggantinya.”
“Siapa, Bel?” Aina penasaran. Ia cemas dan gelisah, takut bahwa Galih lah orang yang dimaksud Bella.
“Tenang, bukan Galih. Aku tau kau suka dia,” ucap Bella pelan. Aina menghela napas panjang. Bella melanjutkan, “..aku suka Mario.”
Aina terdiam. “Mario?”
“Ya, Galih mengenalkan Mario padaku dan aku sangat senang. Mario sangat baik padaku dan mengerti aku. Tapi ia tak bisa selalu bersama denganku. Ia terlalu sibuk, dan aku menyayanginya.”
“Tapi kenapa harus Mario?”
“Kau tak suka?” tanya Bella.
“Bukan begitu, aku hanya takut..”
“Tidak perlu takut…” kata Bella perlahan.
Aina berpikir keras. Bella menyukai Mario dan ia tak boleh membiarkan ini berkelanjutan. Ia sadar, akhir-akhir ini Mario sering absen dari kelas dan jatuh sakit. Apa ini akibat dari hubungannya dengan Bella? Ia harus bicara pada Galih.
***
“Gal, aku mau bicara.”
“Soal apa?”
“Bella.”
“Ada apa dengan Bella?”
“Apa kau percaya ini? Bella suka pada Mario dan ini tidak boleh terjadi,” Aina menyampaikan pada Galih dengan penuh kekhawatiran.
“Bella suka Mario?” tanya Galih.
“Ya! Dan aku tidak percaya kau juga mengenalkan Mario padanya!” seru Aina dengan nada kesal.
“Bella yang minta padaku untuk mengenalkan Mario padanya, dan Mario pun juga tidak keberatan,” jelas Galih.
“Tapi apa kau tidak sadar? Mario sering jatuh sakit akhir-akhir ini!”
“Jadi kau pikir Bella yang menyebabkan ia jadi begitu?”
“Ya! Bella terlalu menyayanginya dan kupikir ia selalu ingin dekat-dekat Mario!”
Galih berpikir. Lalu ia menjawab, “Baiklah aku tanya pada Mario.”
***
“Hantu wanita itu selalu menggangguku dan aku tidak suka!” Mario mengucapkannya lantang pada Galih. Saat itu ia terbaring di ranjangnya.
“Jangan bicara seperti itu! Nanti Bella tahu! Lalu kenapa kau membiarkan dia mengganggumu?” kata Galih sambil berbisik.
“Aku tak mau punya masalah dengan dunia hantu! Aku tidak mau, dan aku ingin lepas dari dia!”
“Jangan-jangan Bella ada di dekatmu dan dia…”
“Dia tidak akan tahu, aku minta dia tidak mendatangiku untuk beberapa waktu karena aku punya banyak urusan.. dia akan menurut padaku.”
“Kau membohonginya? Kau malah akan dapat masalah besar!” Galih memperingatkannya.
“Lalu bagaimana denganmu sendiri? Kau tak takut dia mengikutimu sekarang dan berada di sampingmu, huh?”
“Kurasa dia tak akan mendatangi aku dan Aina jika kami tak memanggilnya.”
“Kau pintar sekali. Tolong minta dia jangan mendatangiku lagi, aku merasa terganggu dan aku tidak bisa sembuh jika begini terus..”
Galih berpikir. Agak berat, ia menjawabnya.
“Akan aku usahakan.”
***
Galih mengkonfirmasikan semua itu pada Aina. Mereka merencanakan akan mengatakan semuanya pada Bella. Akhirnya Galih dan Aina pun memanggil Bella. Mereka membicarakan masalah Mario.
“Bella, kami ingin menyampaikan pesan Mario padamu,” Aina memulai.
“Apa?”
“Mario akhir-akhir ini selalu sakit. Ia juga tidak bisa konsentrasi pada sekolahnya. Ia menyampaikan masalahnya padaku dan ia bilang…” kalimat Galih terpotong.
“Ia bilang ia mencintaiku?” suara Bella menunjukkan kesenangannya.
“Bukan, ia bilang, ia tak ingin dekat denganmu lagi. Ia mau sembuh, Bel,” jelas Galih.
“Tapi ia bilang padaku ia senang berteman denganku.”
“Maafkan Mario, ia tak ingin membuatmu kecewa.. ia sadar bahwa ternyata kedekatanmu dengannya membuat kondisi kesehatannya tidak baik,” lanjut Aina.
“Apa benar Mario begitu?”
“Maafkan Mario, Bel..” ucap Galih.
“Jadi ia tak mau dekat denganku?” keluh Bella.
Galih dan Aina terdiam.
“Padahal aku sudah berusaha menyayanginya..” suara Bella terdengar menyedihkan.
“Mungkin bukan dengan cara itu, Bel..” bujuk Aina.
“Baiklah, aku tidak akan dekat Mario lagi…” ucap Bella. Galih dan Aina lega. “Tapi aku mau pengganti Mario…”
Galih dan Aina menatap satu sama lain.
“Siapa?”
“Aku mau Galih.”
“Galih?”
***
Saat jam istirahat, Aina hanya menatap sedih ke arah teman-temannya yang asyik bermain. Teman-temannya bercanda tawa tanpa mengetahui apa yang terjadi pada Galih sebenarnya. Yang mereka tahu Galih pindah ke sekolah lain karena ikut orang tua dan kakaknya. Mereka tidak tahu Bella, juga tidak merasakan kejanggalan dengan kematian Mario. Yang mereka tahu Mario meninggal karena penyakit kankernya. Tapi Aina yakin itu adalah perbuatan Bella. Keluarga Galih pun tak diketahui kabarnya. Ia sudah coba mencari informasi tentang keberadaan Galih, kakaknya dan kedua orang tuanya, tapi tidak memberikan hasil. Ia sungguh menyesal mengapa ia membiarkan Galih menerima permintaan Bella.
Oh, sudah lama sekali ia tak bertemu Galih. Ia sangat merindukannya. Ternyata memang tidak baik pada akhirnya. Ia sungguh menyesal tidak memisahkan Galih dari dunia Bella dan justru ikut dalam permainan itu. Ia sangat menyesal. Kini dia benar-benar merasakan apa yang Bella rasakan dulu hingga membuatnya ingin mati saja.
“Sudah puas, Bella?”

Diah

Gadis itu masih juga sendiri duduk di bawah pohon beringin yang rindang, keadaan sekeling memang sedikit aneh, tak jarang ada yang bicara sendiri sambil tertawa lepas, ada yang berteriak-teriak histeris ketakutan dan ada pula yang mengomel tak henti-henti tapi entah dengan siapa. Tepatnya sudah satu bulan gadis itu berada di tempat ini, sesuatu yang mungkin juga asing untuknya. Padahal senjapun sudah ingin berlalu, karena harus digantikan dengan malam. Matanya menatap lepas keangkasa, seperti menanti kehadiran kerlip bintang, tapi tatapan itu kosong, mulutnya nampak berguman seolah dia sedang bicara dengan seseorang, sembari tersenyum jemari-jemari lentiknya memainkan ujung-ujung rambut yang tergerai lepas tertiup angin senja.

Mata itu masih disitu, menatap ke angkasa tampa reaksi nyata. Namun ada basah di sudut matanya, mengalir jadikan menganak sungai namun tidak sedikitpun dia menyekanya atau sesungukan seperti lajimnya orang menangis. Malam mulai menjemput, menghadirkan bulan yang datang dengan malu-malu menyembul di pelataran angkasa luas bersama bintang-bintang gemerlap. Sunyi yang ada hingga terdengar jelas nyanyian serangga malam menghadirkan lagu kidung malam, disegudang keperihan dalam kegelapan. Iya dia masih disitu kini terdengar lirih suaranya melangukan kidung kerinduan akan sesuatu untuk bisa dia dekap dalam hadir nyata. Malang sungguh telah hadir di kehidupannya kini, tiada siapa yang bisa tau akan apa yang telah terjadi dalam kenyataan yang pernah dihadapinya saat harus kehilangan semua yang di cintai.

Adakah puing-puing berserakan kan bisa menjadi kesaksian yang nyata? Bisakah sang angin beritakan kejadian yang sesungguhnya dan bisakah sang senja kala itu menaungi rasa takut yang mencekam diri dan saudara-saudaranya. Saat itu yang ada hanya pasrah dalam doa, entah hari ini atau lusa dia atau keluarga yang lain yang menjadi giiliran kebiadaban perang.
Sore itu, sekembalinya dari sekolah, belum sempat Diah melepas seragam sekolah dan melepas penat karena seharian berkutit dengan pelajaran, tiba-tiba bapaknya dan ibunya menyuruh Diah dan adik-adiknya agar siap-siap karena mereka harus pindah untuk sementara ke desa sebelah.
�memangnya ada apa lagi pak?� tanya ku penasaran saat sehabis sholat Isya berjamaah, meski aku sudah menduga pasti ada kerusuhan lagi yang akan terjadi di desa ini seperti yang sudah-sudah. �kabarnya penduduk desa mendengar kalau akan ada penyerangan oleh perusuh-perusuh kedesa kita�. Aku dan adik-adikku cuma bisa membayangkan kengerian pasti kan terjadi. Malam itu kami sekeluarga berjaga-jaga agat tidak tertidur terlampau pulas. Ku lihat ibu membelai kening si kecil Milah yang saat itu masih berumur tujuh tahun dan adikku Ridho berusia dua belas tahun. Tidak bisa rasanya mataku untuk terpejam walau barang sejenak. Bapak pun tak bisa menyembunyikan kegelisahan di raut wajahnya yang sudah termakan usia, namun masih nampak tegar meski terkadang sakit-sakitan. Ibu menatapku penuh kesedihan sekakan dia dapat merasakan kegelisahan dalam keluarga, apa yangkan terjadi nanti.

Saat pukul tiga pagi kami sekeluarga memang masih terjaga, kami sekeluraga mendengar teriakan-teriakan warga desa. �Ada perusuh datang! Ada perusuh datang!!� Rasa takutkupun kian mencekam, kupeluk Ridho yang tengah duduk disampingku. Tampa perlu di komando kami semua bersama warga keluar rumah, ibu pun berlari sambil mengendong Milah, sementara aku mengandeng Ridho, kami bersama warga coba menyelamatkan diri sebisa mungkin, karena warga juga bapak tidak menyangka kalau secepat ini perusuh-perusuh itu datang.

Pemandangan yang saat tadi hening mencekam kini kian menjadi riuh disebabkan teriakan dan lengkingan histeris para warga yang terkena sabitan senjata tajam, anak panah yang melesat yang menerjang tampa belas kasihan menghujam tubuh tampa dosa, serta peluru yang mebabi buta. Kami coba lari ketempat-tempat yang kami rasa aman, akhirnya aku dan keluargaku juga warga berlari menuju masjid. Ternyata mereka masih mengejar, kami dapat saksikan dari celah-celah kaca bagai mana mereka membakar rumah-rumah kami, bagai mana mereka meledakkan bom-bom disekitar kami.

Bukan tampa perlawanan kami lari, pemuda-pemuda desapun dengan sekuat tenaga memberikan perlawanan, tapi apalah kemampuan dari hanya sebilah golok dan bambu runcing. Bergelimpangan tubuh-tubuh mereka, ada yang tertebas kepalanya hingga putus. Ada yang terkena peluru di kepala dan tubuhnya, sekujur tubuh bersimbah darah, bau anyir darah, lantai dan pelataran sekitar banjir darah. �Ya Allah�ada lagi korban tepat di depanku dia jatuh bersimbah darah seraya memegangi dadanya yang terkena tembakan, disini darah disana pula darah dan erangan kesakitan, lantas mana bapak?� Ku tak kuasa menahan airmata, menyaksikan pemandangan yang memilukan, aku resah, aku bingung, karena aku tidak melihat bapak di sekitar kami. �Kak .Bapak!!� Ya Allah ternyata bapak telah terluka, terkena sabitan golok, Ridho memegangi bapak sambil menangis,�Pak�tahan ya pak�pasti kita selamat� �Bapak�!�ku peluk bapak yang bersimbah darah�sudah tak ku hiraukan lagi, darah membasahi bajuku. �Diah�jaga ibu dan adik-adikmu ya!� �Bapak!!! Aku dan Ridho coba menguncang bapak agar dia bangun..namun sia-sia. Belum usai sedihku tiba-tiba adikku Milah jatuh terbujur tepat juga dihadapanku dan ibu rebah bersimbah darah dan anak panah menancap di dada kirinya.

***

Gadis itu masih juga sendiri duduk di bawah pohon beringin yang rindang. Mata itu masih disitu, menatap ke angkasa tampa reaksi nyata. Namun ada basah di sudut matanya, mengalir jadikan menganak sungai namun tidak sedikitpun dia menyekanya atau sesungukan seperti lajimnya orang menangis. Gadis itu lirih berucap ” Malam mulai menjemput, menghadirkan bulan sementara aku? sedih sepanjang hari, aku merasa kehilangan teramat sangat tampa bisa ku berteriak lagi, aku rindukan mereka menjemputku juga, menjemput kepelukan mereka hingga waktu tiba”.
Satu yang tersisa yang ku punyapun pergi, karena terserang penyakit yang mewabah di sekitar pengungsian. Selamat jalan Ridho, ibu, bapak dan Milah juga ikut menjemputmu, meninggalkan kakak sendirian berpijak disini, entah sampai kapan semua kan tertahan di rongga dada, sesak jiwa bernafas walau sekedar menghirup udara.

Biarlah semua membisu, mematung di jejeran pemakaman ,gugurkan bunga kemboja pada pusaran, basah sudah ku hempaskan jiwa. Menyeka perih jika ada yang tertinggal saat tertidur tadi.

Ku ingin semua usai, kuingin semua hilang, tampa ada goresan pisau di lubuk hatiku, ku kehilangan jiwa dan angan kehidupan setelah semua hilang dari kehidupanku, dari yang di kasihi.

Ku terhempas lunglai, rapuh tampa tau kelanjutan hidupku, ku ingin semua usai, yah semua.

Tampa beban, ku ingin hari-hariku penuh ceria dan tawa, tiada mendung kesedihan di bola mataku

Ku ingin bebaskan jiwa penatku, bersenandung kidung manja milik ibu, kidung rindu milik bapak dan kidung riang milik adik-adikku.
Selamat jalan semua, ku ingin tidurku terpulas malam ini, tampa harus terusik oleh siapapun, kuingin terbang pergi kekayangan para dewa-dewi menata hari tampa letih dan kepedihan. Biarku tertidur disini, menjemput mimpi saat kembalikan hidup tampa sukma terjaga, ku ingin terpulas saat ini juga selamanya, bersama kerdil dan kebodohan yang tak bisa kutahan lagi, selamat malam mimpi, selamat tinggal kehidupan dan angan kepedihan , kusudahin hingga kehari ini.

�Suster Mira! mana Diah?� �Kenapa belum juga dia ada di ruanganya?� tanya suster Sri yang juga bertugas menjaga para pasien di rumah sakit jiwa tersebut. �Tadi dia ingin duduk-duduk di halaman samping�, �masa Diah belum masuk, malamkan sudah larut�, ujar suster Mira�, �Meski pikiranya agak terganggu tapi Diahkan tidak biasanya seperti ini�, Suster Sri resah. �Biar aku cari Diah�. Jawab Suster Rina yang baru tiba dari ruang sebelah dan kebetulan mendengar percakapan mereka.

�Ya ampun.. Diah.. apa yang sudah terjadi dengan kamu nak?!!!� Suster Rina menemukan Diah tergolek kaku bersandar di kursi tepat dibawah pohon beringin. �ternyata teriakan Suster Rina terdengar oleh yang lainya, hingga para petugas lainpun datang dengan penuh tanda tanya.

Ternyata Diah memang tidur untuk selamanya, menjemput kembali keluarganya, menjemput semua kenangan pedih untuk dilepaskan, meski jalan tertempuh salah, dengan seutas tali pengikat dilehernya.

Rembulan dan bintang kesaksian bisu yang takkan pernah berucap, meski tau apa yang terjadi, serangga malampun hanya bisa berkidung duka dengan nyanyian, malam kian merayap kelam di hempasan arus kehidupan, menyudahi untuk agar mentari esok tetap bisa bersinar kembali.

Cinta di Internet

Pagi yang cerah Dina terbangun dengan suara alarm jam dikamarnya. Dia kesal dengan jam itu karena membangunkannya jam 5 tepat. Pasti ini kerjaan bibi�sahut dina kesal�.dengan wajah murung dia pergi ke meja makan, kenapa kamu dina�kata mamanya. Dina bete ma jam itu membangunkan dina jam 5. Yah udah kamu sarapan dulu ghih.iya ma!!!, kata dina kesal.
Sesampai di sekolah di meja dina sudah ada setangkai mawar putih kesukaannya, siapasih yang kasih bunga ini. nggak tau din! Itu sudah ada di meja kamu tadi, Sahut vita teman akrabnya. Dina kesal dengan orang yang memberikan bunga itu kepadanya. Sudah dua minggu ini bunga itu selalu ada di mejanya tanpa tau siapa pengirimnya.
Bel istirahat berbunyi, dina dan teman-temannya pergi kekantin. Sesampai di kantin, dina dan temannya melihat roni cowok tertampan di sekolah itu. Tapi anehnya dina tidak tertarik sama sekali pd cowok itu. Din, kok lo nggak tertarik sih sama cowok tertampan, terkaya disekolah ini?tanya vita. Eh bukan juga kaya dia itu baik hati, dan dia belum pernah nembak cewek Cuma cewek yang nembak dia, tambah rini. Trus maksud lo gw harus jatuh cinta gitu ma dia. Yah bukan begitu juga din, tapi e�lo itu cewek tercantik disekolahan ini, masa� lo nggak tertarik ma cowok setampan roni sih?.jangan-jangan e�lo nggak punya naluri perempuan yah? Sahut eka. Bercanda lo, gw nggak suka sama dia karena gw suka sama seseorang yang diinternet itu!. Maksud lo si rudi!sahut eka. Iya emang kenapa?, tapi kan lho belum pernah ketemu ma dia!!.jawab rini. Dina hanya tersenyum mendengar ucapan rini.
Bel pulang berbunyi. Roni dari jauh memperhatikan dina, dia memperhatikan dina yang keluar dari kelasnya, maklum kelasnya berdekatan!. Rini melihat roni yang memperhatikan dina dengan tatapan naksir!!.din..din.. e�lo liat roni tadi nggak?. Nggak gue nggak liat emang kenapa?tanya dina. Dia memperhatikan elo itu dengan tatapan naksir!!. Bercanda lo rin!! Sahut dina. Eh beneran lho din. Iya, dia memperhatikan elo itu dengan tatapan naksir! Tambah eka. Dina kembali tersenyum dengan perkataan teman2nya itu.
Sesampai dirumah dina chating sama temannya si rudi. Anehnya dina belum pernah melihat wajah rudi di chating. Hanya rudi yang bisa melihat dina karena dina memakai fotonya saat chating. Maklum tebar pesona diinternet.
Din, gw blh curhat nggak sama lho!!!???.boleh balas dina spontan. Gw lagi jatuh cinta nih sama teman gw!!, dina merasa kecewa dengan curhatan rudi itu. Siapa itu rud?tanya dina kecewa. Cewek itu adalah kamu!.apa!!! kamu bercanda yah tanya dina dengan hati gembira. Nggak gw nggak bercanda. Itu beneran kamu!!, sahut rudi. Tapi kita kan belum pernah ketemu.. rud!!???. iya aku tau tapi aku kenal kamu kok. Kamu itu sekolah di sma 256 khan?? Kelas 11 ipa.
Kok kamu tau sih, tanya dina kebingungan. Yah tau aja. Dan kamu suka banget mawar putih!!.iya kan???. Iya kok tau sih??, tanya rudi tambah kebingungan. Jadi kamu mau nggak jadi pacar ku. Iiiyyya udah aku mau�.!!!!!. dalam perasaan dina dia senang karena bisa jadian sama rudi, dalam hati kecilnya berkata kalo rudi itu orang yang dia kenal. Dina kok diem?? Sahut rudi. Nggak kok, jawab dina ragu-ragu. Eh sebenarnya aku teman kamu di sekolah!, kata rudi ragu-ragu. Oh yah trus kamu itu syapa donk?. Aku itu rudi?!!. Perasaan di sekolah gw nggak ada nama rudi deh?!, jawab dina bingung. Nanti kamu juga tau, eh kamu tau siapa yang selalu ngirim kamu bunga mawar putih. Nggak tau, emang siapa. Aku!!!. Apa! Kamu nggak bercanda?. Nggak!.oh jadi kamu yang selama ini ngirim aku mawar putih?.iya.
Tidak terasa sudah sore. Dina langsung ganti baju dan pergi keluar kamar. Dina kamu nggak makan?.iya ma, ini dina mau ambil piring!!.yah udah, kata ibunya sambil ke taman buat nyiram tanaman. Setelah makan dina nelfon temen-temannya untuk datang kerumahnya. Beberapa lama kemudian bel dirumah dina berbunyi. ding..dong dina langsung menuju ke pintu, tiba2 dina�. Suara teman-temannya yang menggetar dirumahnya. Hei akhirnya kalian datang juga! Ayo kekamar gw ada yang mau gw omongin.
Dina langsung bercerita tentang apa yang terjadi di internet. Eh ternyata yang chating ma gw itu orang yang selalu ngirim gw mawar putih, kata dina sambil tersenyum. Eh lo tau nggak tadi gw di tembak sama si rudi, tambahnya lagi. Yang benar lho!!, tanya rini kaget!. Yah iya lah emang lo pikir gw boong!. Jawab dina kesal. Iya enggak gitu juga sih!!. Eh jadi rencana kita gimana nih?, tanya eka. Hmm� dina berfikir sejenak. Ah gimana kalo besok kita pagi-pagi banget datang kesekolah buat ngeliat siapa yang selalu ngirim lo bunga din, jawab vita spontan. Ide lo bagus juga vit!!. Ok besok pagi kita datang jam 6 kesekolah? Gimana mau nggak, tanya dina. Ok-ok kita mau, asal lo jangan telat datengnya!! Kata vita. Beres gw bakalan dateng lebih awal dari kalian. Ok kita berkumpul di taman. ok!!
Pagi ma, pa!!. tumben dina bangun pagi hari ini? Tanya ibunya. Iya ma dina lagi janji ma teman-teman!. Oh!! Kemarin kamu kesal karena jamnya bangunin kamu pagi-pagi?. Itu kemaren ma skarang aku lagi janji ma teman jadi pergi kesekolah pagi banget. Bilang sama teman-temanmu itu tiap hari aja kalian janjian supaya kamu itu tidak terlambat kesekolah, kata bapaknya. Ah papa bisa aja!, kata dina. Udah yah! dina pergi dulu!!. Din kamu nggak pergi ma papa aja?. Ah nggak usah pa! dina pake mobil aja nanti dikirain dina anak papa lagi!. Dada�. Papa dada� mama. Iya hati2 dijalan yah din!. Iya ma!
Sesampai di sekolah dina melihat teman-temannya sudah menunggun di taman. Sorri gw telat. Katanya mau sampai lebih awal dari kita, kata rini mengoda. Bisa aja lo rin!!. Ok yah udah kita langsung ke mobil gw aja supaya kita bisa tau siapa yang ngirim gw bunga, tambah dina. Eh lo bawa mobil yang mana nih? Tanya eka penasaran. Mobil yang satunya, yang gw belom penah bawa ke sekolah ko!. Ok let�s go, kata vita.
Dengan hati yang penasaran mereka menunggu pangeran yang memberikan dina bunga akhir-akhir ini. Karena dia tidak muncul juga, dan sudah banyak murid mereka langsung kekelas dan tidak menemukan mawar!. Din, kok bunganya nggak ada sih!, kata vita. Iya yah! Beberapa saat kemudian bel berbunyi, dina masih memikirkan siapa yang mengirim dia bungal. Dia tambah penasaran pada cowok bernama rudi itu. Saat istirahat mereka pergi ke kantin. Seperti biasa dina selalu di lirik cowok-cowok yang ada di kantin.
Tak berapa lama putra datang. Halo din!!. Mau apa lo kesini, tanya vita jutek. Ihh jutek banget sih n�tar cepat tua loh!!. Eh sudah-sudah!! Kata dina menenangkan mereka. Eh lo itu kan sekelas ma roni? Boleh nggak gw tau nomor hp nya, tanya eka membujuk. Bercanda lo ka, eh di kelas lo siapa sih yang selalu main internet?, tanya dina penasaran!. Nggak tau juga yah!!. Dina langsung melihat roni yang duduk di meja depan dengan spontan dia bilang rudi?!!. Rudi? Tanya rini. Eh gw boleh bicara nggak ma kalian bertiga?, sini!!!. Ada apa sih din lo kok kayak orang nggak waras gitu?. Bercanda lo rin, perasaan gw roni itu rudi!!, kata dina sambil menatap roni. Kok lo bilang gitu sih? Tanya eka penasaran. Lo pernah merasakan cinta kan?. Ya iya lah jawab mereka spontan. Nah itu gw merasa selama ini roni itu rudi karena firasat gw bilangnya kayak gitu. Iya juga ya din? rudi, roni, rudi, roni, tuh kan namanya mirip, kata vita. Eh trus apalagi kata rudi di internet? Tanya rini. Dia bilang kalo dia itu jatuh cinta ma gw udah lama dari mos!!, katanya lagi gw cewek pertama yang dia tembak. Nah mungkin saja itu roni, dia kan belum pernah nembak cewek? Kata rini. Eh itu putra, kita tanya aja sama putra. Put, lo pernah nggak dengar kalo roni itu selalu main internet? Tanya dina penasaran. Oh iya, dia bilang dia itu selalu main internet dan dia suka sama cewek yang di internet!. Ah, yang benar lo! Tanya dina penasaran. Yah iya lah kemarin katanya dia nembak tu cewek. Trus-trus� sabar non! Yah iya trus apa. Dia bilang tu cewek nerima dia untuk jadi pacarnya. Trus apalagi. Dia bilang lagi tu cewek dia suka banget!!. Oh yah? Tanya dina gembira!.
Put� sini donk, teriak alex teman roni. Tidak berapa lama kemudian putra datang ke meja dina. Din, lo di panggil roni tuh!. Dia nunggu lo di taman katanya cuman lo sendirian aja. Ok thanks yah, kata dina sambil berjalan ke taman. Sesampainya disana roni sudah menunggu dina dan menyuruh dina duduk disampingnya. Din, mungkin lo udah tau siapa rudi pacar lo dalam internet itu, kata roni sambil tersenyum manis. Iya itu e�lo kan?. Iya lo benar din itu gw, gw nggak berani ungkapkan kalo gw itu suka banget ma lo. Kenapa?, tanya dina. Karena gw belum pernah nembak cewek, gw bertekat gw bakalan nembak cewek jika cewek itu adalah cewek yang paling gw sayang, dan cewek itu adalah lo din, gw sayang banget ma e�lo. Tapi kenapa lo nembak gw di chating, kenapa nggak terus terang aja. Yah, itu tadi gw malu, tapi semalam gw berfikir lagi dan akhirnya gw berani ngomong ama lo. Lo mau kan jadi pacar gw?. Kan udah gw bilang di chating kalo gw mau pacaran ma lo. Ah yang benar din?. Iya gw juga sayang ma lo ron, jawab dina.
Sejak pertaman gw ketemu e�lo din gw udah suka ma e�lo!. Tapi dimana kita pertama kali bertemu ron?. Di aula, waktu itu kita lagi mos. Dan gw ma teman2 nggak nyanyi terus kita di suru maju kedepan untuk nyanyi dan pada saat itu lah gw jatuh cinta ma lo, tapi e�lo malah nggak memperhatikan gw. Waktu pembagian kelas untuk mos, lo di gugus mawar kan?. Iya, kok lo tau?. Iya gw ngeliat elo berdiri. Ohhh!! Gitu. Jadi skarang kita udah resmi donk pacaran?, tanya roni ragu-ragu. Iya kita skarang pacaran. Kemudian roni memegang tangannya dina. Dan teman-teman mereka mengejutkan mereka. Chiye ada yang beru jadian nieh�!!!. Mereka berdua tersenyum lebar!!.

Kepergian Kailya

### � mungkin aku tak bisa membahagiakanmu, tapi paling tidak
Izinkan aku memberikan yang berlebih pada diriku untuk mu�
Maafkan aku atas kata2 yang tak terwujud�,maafkan aku atas kebisuanku
Selama ini�.�
Dariku
Yang takut akan kehilangan dirimu
Rhyo armadana ###

Pagi masih terlihat sejuk, burung-burungpun terus bernyanyi diatas pohon depan kamarku, entah kenapa hari ini aku merasa bersemangat.., mungkin karena aku akan bertemu dengan Rhyo sepulang sekolah nanti. Setelah sebulan lamanya aku tidak bertemu dengannya jangankan bertemu mendengar suaranya saja juga tidak. Sesampainya disekolah wendy dan lintang sudah menunggu aku dikelas.�ly�, gimana nanti? Pasti kamu sudah gak sabar yah..?.tanya wendy sedikit ingin tahu.�iya nih wen, aku jadi pingin buru-buru pulang aja� ya ampun kailya�kitakan baru masuk�!sindir lintang dengan mengeleng-gelengkan kepalanya sambil menepuk bahuku.*** ah�akhirnya bel pulang berbunyi tanda pelajaran kami sudah selesai, dengan bergegas aku langsung pamit pulang duluan..Aku menunggu dikantin didepan sekolah, aku lihat jam ternyata masih jam setengah satu, sedangkan Rhyo janji menjemputku jam satu nanti disini..sambil menunggu waktu itu tiba aku minum es kelapa trus nonton TV deh�..Akhirnya Rhyo datang juga meski terlambat 15 menit. Aku lihat ia begitu murung, sorot matanya nampak menggambarkan kesedihan yang mendalam. Hai..Kailya apa kabar?…tanya rhyo sambil menecup keningku. Begitu hangat kecupan Rhyo..,Seakan-akan melepas rindu yang mendalam. Aku tak banyak berkata-kata aku hanya ingin tahu saja Rhyo�, kamu kenapa kok hari ini aku liat kamu aneh, kamu punya masalah,kenapa ?..ada apa ?..,aku semakin mengkhawatirkan orang yang selama lima tahun ini telah menjadi pacarku.Aku tahu betul apa yang menimpanya..
Sebelum Rhyo menjawab aku sudah diajaknya pergi meninggalkan kantin.selama perjalanan Rhyo terus menggenggam tanganku sambil mengendarai motor yang kami tumpangi dengan pelan namun pasti Rhyo mengajak aku kepantai, dan ini untuk yang pertama kalinya ia mengajak aku ketempat seromantis ini. Kami berjalan menyusuri pinggir pantai sambil merangkulku Rhyo tiba-tiba saja bercerita�.�kamu ingin tahu aku,kenapa selama satu bulan ini aku tidak menghubungimuatau bahkan menemuimu..?�aku tau itu karena kamu harus keluar kota untuk bekerja, mungkin kamu sibuk makanya kamu tidak menelephon aku..hanya itu yang aku tahu�� bukan karena itu Kailya�masih banyak yang kamu belum tahu tentang aku Lya�, mungkin kamu terlalu baik untuk aku,kamu selalu berusaha untuk berada dekat aku saat aku merasa kehilangan semangat,saat aku merasa benar-benar tak berarti lagi untuk jadi orang yang kau cintai..� jangan katakana kamu tidak mencintaiku lagi, Rhyo?! , aku tidak ingin mendengarnya�.� Bukan lya�! � lalu apa..??..� tidak mungkin aku tidak mencintaimukamu sudah terlalu memenuhi seluruh pikiranku selama ini.., terlalu banyak cerita yang kulalui bersamamu, tak pernah sedikitpun kamu menyakiti perasaanku, kamu selalu membuat aku tersenyum, bahkan tertawa disaat disaat kesedihan melandaku.�*** Rhyo mengajak aku untuk menumpangi perahu berdua saja dengan makanan dan minuman yang tertata rapih dimejanya ada dua lilin dan satu tangkai bunga mawar dan secarik kertas berwarna biru tertuliskan namaku �KAILYA PERMATA�
� mungkin aku tak bisa membahagiakanmu, tapi paling tidak
Izinkan aku memberikan yang berlebih pada diriku untuk mu�
Maafkan aku atas kata2 yang tak terwujud�,maafkan aku atas kebisuanku
Selama ini�.�
Dariku

Yang takut akan kehilangan dirimu
Rhyo armadana

Aku seakan � akan telah terlelap dalam mimpi indahku�mimpikah aku�? �tidak Kailya�kamu tidak bermimpi kamu sedang bersama aku sekarang�. Rhyo ayo kita pulang sudah sore nanti mama marah,?..�tenang aja lya.., tadi aku sudah izin sama mama untuk mengajak kamu pergi dan pulang larut. Terlalu banyak yang sudah kamu perbuat untuk ku Yo.., tapi sesungguhnya aku mengenalmu, aku tau sebelum kamu mengatakannya padaku�, yang aku butuh bukan kata2 manis,atau puisi,bahkan setumpuk bunga mawar, karena yang aku butuh hanya kamu dan bersamamu dalam setiap detik yang aku punya, ada kamu yang menjaga aku, ada kamu yang membuat aku semangat.
*** Enam bulan berlalu akhirnya aku diterima disalah satu universitas tempat dimana Rhyo kuliah dulu, belum lagi wendy dan lintang juga diterima ditempat yang sama. Ini hari pertama aku masuk kuliah, dan tadi Rhyo yang mengantar aku kekampus�Saat aku sedang mengikuti OSPEK semuanya masih berjalan lancar�sampai saat aku merasa seluruh badanku remuk kepala ku pusing dan aku tak tau apa yang terjadi lagi setelah mataku terpejam dan terjatuh�.Sadar2 aku sudah berada diruang perawatan kampus,..Ly�.,kenapa kamu, kamu belum makan yah�?tanya lintang dan wendy mengkhawartirkan aku. Loh kok kalian boleh masuk kesini..ia sekarang kita sudah diizinkan pulang oleh kaka senior.
Satu minggu berlalu entah kenapa akhir2 ini badan aku terasa pegal2 belum lagi rasa nyeri ditulangku�,dulu aku juga pernah seperti ini dan sudah diperiksakan kedokter aku hanya tidak boleh terlalu lelah saja. Setelah minum obat hilang semua. Tapi kok sekarang tambah parah yah�,sudah dua hari aku tidak masuk kuliah, tentu saja semua jadi khawatir akan keadaan ku.tiap hari setiap pulang kuliah wendy dan lintang selalu menemaniku dirumah belum lagi perhatian Rhyo yang membuat aku merasa jadi ratu�.
Satu tahun berlalu begitu lambat mungkin karena sakit yang aku rasakan sehingga selama setahun belakangan ini aku selalu keluar masuk rumah sakit dengan keluhan yang sama, aku tidak tau sakit apa, karena selama ini dokter yang memeriksaku hanya berbicara dengan mam atau Rhyo dan ketika aku Tanya mereka menjawab aku hanya tidak boleh kelelehan. Aku jadi penasaran�.,
Satu minggu berjalan lancar badanku terasa lebih enak,tulangku pun menjadi lebih bersahabat,sehingga aku beranikan diri untuk meminta Rhyo untuk jalan2 keluar rumah�Akhirnya Rhyo menyetujuinya dengan persetujuan mama tentunya,Rhyo mengajak wendy dan lintang juga pasti seru deh. Rhyo menjemputku setelah berpamitan kita melaju ke tempat wendy dan lintang.lalu kita pergi berempat kesalah satu tempat karoke dijakarta karena aku yang memintanya,entah kenapa aku ingin sekali bernyanyi bersama mereka. Penuh canda tawa semuanya riang aku merasa tidak seperti orang sakit. Rhyo selalu tersenyum dan bernyanyi sambil melihat ke arahku sehingga membuat wndy dan lintang ngiri. � aduh..yang berduaan dunia milik berdua deh..sahut lintang agak sedikit mencibir sambil tertawa memandang wendy..� lintang�aku sayang kamu deh�jangan pergi dariku�?sahut wendy beriringan meledek aku dan Rhyo. Tiga jam berlalu dan kami menghabiskannya disini. Penuh canda tawa dan kenangan yang indah bersama mereka.
Hari ini hari minggu sudah pasti semua libur,kali ini aku meminta Rhyo untuk pergi ketempat wisata di Jakarta, kali ini wendy dan lintang juga ikut,aku membawa bekal secukupnyadan kamera untuk mengabadikan suasana disana nanti. Entah kenapa aku tidak ingin melewati hariku sendiri dan hanya sendiri�Kami pergi dan disana banyak kejadian yang menyenangkan. Kami berfoto dan selalu bersama banyak sekali foto dan gaya2 kami �
Keesokan harinya aku ingin sekali pergi kevilla bareng dengan mereka dan keluarggaku tapi kata Rhyo aku sudah terlalu lelah bagaimana kalau kita undur saja jadi minggu depan dan kebetulan juga bertepatan dengan ulang tahunku.yah..aku pun mengiyakannya.Keesokan harinya Rhyo rutin datang kerumahdan bicara dengan kedua orang tuaku. Aku sempat mendengar percakapan mereka yah apa lagi kalau bukan pestaku nanti. Mama sibuk menelephon saudara,papa dengan Rhyo sibuk.
menyiapkan acaranya nanti,belum lagi wendy dan lintang sibuk dengan mamamerinci siapa saja temanku yang akan diundangnya.Entah kenapa aku jadi semakin sedih,..ternyata banyak sekali orang2 yang menyayangiku selama ini, aku

beruntung memiliki mereka disisiku� ah�tubuhku menggigil dan kurasakan dingin,aku juga merasakan sakut yang luar biasa di tulangku.Tapi aku tidak mau mereka semua mengkhawatirkan aku aku sengaja menyembunyikan sakitku..aku berkaca oh..alangkah pucatnya aku seperti kehabisan darah rambutkupun makin menipis�TUHAN kenapa aku,ada apa dengan tubuhku?….Tiba2 saja wendy dan lintang masuk kekamar tanpa mengetuk pintu.�hai�Ly, cie yang mau ulang tahun ngaca mulu nih�sahut situkang celetuk lintang�.,kita kesalon yuk aku ingin memotong rambutku ajak wendy?� aku juga mau crembat nih�yuk Kailya kamu sekalian aja mempercantik diri buat ulang tahun nanti.
Sepulangnya dari salon memang sih badan ku agak rilek , Besok sudah acaranya semua jadi semakin sibuk..Malam ini aku tidur tidak nyenyak untung saja ada Rhyo tiba2 datang kerumah sambil membawa kue kecil bertuliskan happy b�day Kailya dan 21 lilin menandakan usiaku sekarang Rhyo menyanyikan Happy B�day untukku tepat jam 12 malam.Selamat ulang tahun yah sayang�sambil mengecup keningku..semoga cepat terlepas dari rasa sakitmu..apa yang kau inginkan akan terwujud..Makasih Rhyo aku gak pernah nyangka kamu akan datang ..aku pikir seperti biasa hanya telephone dan keesokan paginya baru kamu datang��aku kan ingin kasih kamu sesuatu yang berbeda apa lagi untuk calon istriku�sambil menunjukan cincin yang rhyo bawa untukku maukah kamu bertunangan dengan ku KAILYA..? hanya airmata yang kusematkan dipipiku aku tak mampu berkata Jelas Rhyo aku mau�sambil memeluk Rhyo..Rhyo pun memakaikan cincinya dijari manisku�*** Sesampainya divilla aku merasa lega entah kenapa aku merasa semua bebanku terlepas hilang tertiup angina��acara sudah mau dimulai sayang�,semua sudah berkumpul didalam..�suara Rhyo yang tiba2 muncul diiringi sebuah kecupan dipipiku dan memelukku. Rhyo�kamu janji yah apapun yang terjadi nanti dengan aku kamu tidak boleh menangis� iya aku janji�kamu bicara apa sih..kok ngomongnya kaya mau pergi kemana aja?..dah yuk kita masuk�
Akhirnya acaranya selesai juga sungguh aku lelah�tapi aku senang..yang lain sedang asik bermain.disini hanya ada aku Rhyo dan dua sahabatku.kami bicara panjang lebar.kali ini aku yang banyak bicara..� aku Cuma mau ngucapin terimakasih sama kalian semua karena kalian sudah jadi yang terbaik, jadi pacar yang setia,jadi teman bahkan saudara terimakasih karena sudah membantuku mewujudkan mimpi terakhirku��mereka menangis sambil memeluk aku tiba2 saja aku tak ingat apa2yang aku ingat malaikat sudah menjemputku�KAILYA�����..semua berteriak,semua menangis meratapi kepergian KAILYA�raut wajah kesedihan tampak jelas terlihat diwajah orang2 yang aku sayangi.sebelum aku benar2 pergi izinkan aku TUHAN untuk memeluk mereka orang2 yang aku kasihi..sampai akhirnya aku benar2 telah pergi keduania lain�.
*** Satu tahun setelah kepergian KAILYA,Rhyo datang kemakam kailya dengan membawa kotak kecil yang diikan rapih dengan pita.�Lya�aku datang dengan membawa hadiah untukmu, ini foto2 terakhir kebersamaan kita sebelum kepergianmu satu tahun yang lalu.aku belum sempat memberi tahumu..Fotonya lucu2 apa lagi kamu terlihat sehat.sampai2 aku gak pernah nyangka kamu menderita kangker tulang.sebenarnya aku tahu sejak awal ,saat itu aku tiba2 menghilang selama satu bulankarena aku tidak bisa terima orang yang aku sayangi menderita penyakit separah ini.aku tau dari mama dan dari dokter yang memeriksa kamu..maafkan aku jika aku menyia2kan kamu waktu itu. Makanya aku ingin tebus semua kesalahanku dan aku akan membuatmu bahagia sampai akhirnya kamu telah pergi untuk selamanya�
Jika ada hal yang terindah dalam hidupku aku yakin hanya kamu yang terindah�,jika aku boleh memutar waktuku lagi aku yakin hanya kamu yang aku pinta kembali. Tenanglah disana dimana kamu tidak pernah merasa sakit�aku akan menjaga kenangan kita selamanya��..

Tomorrow Never Come

Ternyata aku memang mencintainya. Setiap malam aku memikirkan ini, dan sekarang baru aku merasa yakin kalau rasa ini memang hanya untuknya. Semakin aku mengenalnya, seakan aku tak bisa lepas lagi darinya. Michelle, aku sangat mengagumimu. Sosok yang begitu sederhana. Yah, alasan itulah yang selama ini membuatku tak berani meneruskan rasa ini. Aku, seorang pemilik bisnis komputer yang cukup terkenal, tak mungkin bisa jatuh cinta pada seorang gadis biasa seperti dia. Aku yang lulusan S2 sebuah PTN terkenal di Jakarta tak mungkin bersama gadis yang hanya lulusan SMA. Aku yang terus berprestasi sepanjang masa studiku hingga sekarang berkarir, tak mungkin berniat serius dengan anak seorang pemilik warung pinggir jalan seperti dia. 6 bulan lebih aku tetap pada pemikiranku itu. Sungguh, aku tak mungkin bersama dia. Apa kata dunia bila aku pacaran, dan akhirnya mengikat janji dengan gadis yang tak setara denganku?Dan aku yakin bisa menghilangkan rasa yang sebenarnya telah tumbuh sejak pertama bertemu dengannya, di warung milik ayahnya. Sampai hari ini tiba. Keyakinanku goyah. Yah, ternyata semua prediksiku salah. Aku tak bisa melupakannya, sedetik pun. Terlebih akhir-akhir ini. Entah apa yang membuatku begitu mengaguminya diantara gadis-gadis lainnya. Ada banyak pilihan buatku, gadis selevel, pintar, berkarir, dari keluarga yang disegani, tapi aku tak pernah bisa memilih. Tak ada satu gadispun yang sanggup menyita waktu dan pikiranku seperti Michelle. Aku akui setahun yang lalu aku pernah berniat serius dengan salah satu branch office managerku di kantor cabang daerah Surabaya. Dia pintar, disiplin, loyal, dan yang paling penting, dia juga berniat serius denganku. Tapi aku juga tak mengerti kenapa tiba-tiba saja perasaan itu hilang justru setelah kami semakin saling mengenal, dan akhirnya aku membiarkan dia dinikahi seorang staff perbankan rekanan bisnisku. Yap, istilahnya, aku jadi mak comblang untuk orang yang katanya aku sayangi. Aneh kan? Akhirnya setelah aku mengenal Michelle, aku tahu jawabannya. Aku hanya mengagumi saja, bukan mencintai. Dan aku merasa berbeda dengan Michelle. Walaupun sebelumnya ada banyak penyangkalan dan pemikiran rasional atas perasaanku padanya, kenyataannya, aku mengakui sekarang. Aku sedang jatuh cinta!
***
Saat itu aku melihatnya sedang membantu seorang nenek menyebrang di jalanan yang memang sangat ramai. Entah kenapa tiba-tiba saja aku menghentikan laju mobilku dan memutuskan mengikutinya. Ternyata dia lalu masuk di sebuah warung pinggir jalan tak jauh dari tempatku berdiri memandangnya. Pandanganku terus mengikutinya. Dia sibuk melayani pembeli. Dengan tangannya yang cekatan dia membersihkan meja, mengantar pesanan, menerima pembayaran dari pembeli, sesekali menyeka keringat yang menetes di dahinya. Tanpa sadar, hampir dua jam aku disana memandangnya. Dan hal itu berlanjut terus hingga satu minggu. Aku tetap berdiri disana, sampai pada hari ke delapan pengintaianku, aku memutuskan untuk makan di warung itu. Sebuah keputusan sulit karena sebelumnya aku tak pernah makan di pinggir jalan. Aku termasuk orang yang sangat berhati-hati dengan makanan. Tapi toh akhirnya aku masuk juga, dan mulai memilih makanan apa yang akan aku santap. Dia datang, menawarkan menu andalan warungnya. Aku mengikuti sarannya, es kelapa muda dan soto babat tapi tanpa nasi, karena aku tak biasa mengenyangkan diri di pagi hari. Dia berlalu, melayani pesananku dengan bantuan seorang lelaki paruh baya yang akhirnya aku kenal sebagai ayahnya. Saat dia datang lagi dengan pesananku, aku benar-benar tak mengerti apa yang membuatku nekat melakukan ini. Dia biasa saja, sekilas tak ada yang menarik dari wajahnya. Sampai saat aku melihatnya tersenyum pada ayahnya sewaktu mereka asyik bercanda. Akrab sekali. Warungnya memang masih sepi, karena mungkin memang masih terlalu pagi. Dan aku memang sengaja memilih waktu ini agar aku bisa menemukan jawaban atas kelakuan anehku seminggu ini. Akhirnya aku temukan. Kesahajaannya, semangatnya, rasa percaya dirinya, keramahannya, juga senyumnya. Aku terpesona pada dirinya. Hingga berbulan-bulan aku selalu sarapan di warung itu, berkenalan dengan ayahnya. Membicarakan obrolan-obrolan ringan seputar topik-topik hangat yang menjadi headline di surat kabar, hingga cerita soal keluarganya. Ternyata ayah Michelle open mind person, berwawasan, dan sangat bijak menyikapi suatu masalah. Aku tak pernah canggung dibuatnya. Dari obrolan biasa, hingga masalah serius menyangkut masa depanku aku bicarakan padanya. Tak jarang Michelle turut menyela saat dia tak sibuk melayani pembeli. Menanggapi omongan ayahnya yang kadang memang suka diselingi dengan canda. Aku seakan merasa begitu dekat dengan mereka, disamping perasaan lain yang aku rasakan semakin tumbuh subur pada Michelle. Tapi seperti apa yang aku ungkap sebelumnya, aku tak berani mengakui kalau ini adalah rasa cinta, hanya karena status sosial dan keadaan Michelle yang sangat sederhana. Tapi pagi ini, setelah semalaman aku berpikir keras, aku akan mengubahnya. Yah, aku sudah mantap pada pilihanku. Aku sudah tahu banyak tentang latar belakang Michelle. Studinya mandek bukan karena otak Michelle tak mampu, tapi karena dia mengalah untuk adik-adiknya. Tak meneruskan studi tak membuat Michelle berhenti belajar. Banyak yang dia tahu, termasuk masalah komputer. Rasa ingin tahunya sangat tinggi, membuat aku semakin tak bisa melepas pesonanya. Yah, hanya keadaan yang kurang menguntungkan baginya. Dan sekarang, aku ingin sekali membuatnya bahagia. Berhenti memikirkan nafkah untuk keluarganya. Karena aku yakin sanggup menafkahinya, lahir dan batin, termasuk menyekolahkan kedua adiknya. Aku semakin mantap dengan keputusan ini. Segera kupacu Soluna hijau metalikku dengan hati yang tak menentu. Kali ini aku berniat memarkirnya di depan warung ayah Michelle, agar dia yakin aku bisa mencukupi kebutuhan materinya. Selama ini aku memang tak mengenalkan diriku yang menjadi direktur utama perusahaan spare part komputer dengan banyak kantor cabang di seluruh Indonesia. Yang mereka tahu aku hanya seorang wiraswasta yang sedang meniti karir. Aku tak berniat membohongi mereka, hanya saja aku tertarik dengan ketulusan dan keramahan mereka pada setiap orang, tak perduli status sosial mereka. Dan itu menjadi satu bukti padaku, bahwa mereka, terlebih Michelle tak berorientasi pada status dan materi bila mengenal seseorang, berbeda dengan orang-orang yang selama ini berada di dekatku. Setelah tikungan itu aku akan segera sampai, tapi ups!!! Nyaris saja aku menabrak seorang nenek tua yang menyebrang tertatih. Untung aku cepat menguasai keadaan hingga mobilku bisa berhenti di pinggir jalan sebelum sempat menabrak pohon beringin besar di sisi jalan itu. Huff!! Aku menarik nafas lega. Aku keluar, hanya ingin mengetahui keadaaan nenek tua itu. Tapi kelihatannya dia baik-baik saja, hanya agak terkejut sedikit mungkin. Tapi sudah ada banyak orang yang datang dan menolongnya, termasuk Michelle. Dia segera memeluk nenek tua itu sebelum dia menjerit dengan kerasnya. Aku heran melihatnya. Nenek itu baik-baik saja, bahkan sekarang bisa berdiri tanpa bantuan Michelle. Tapi Michelle terus menatap ke arah mobilku sambil meneteskan air matanya. Lirih juga kudengar dia menyebut namaku. Lalu datang ayah Michelle, melihat keadaan dan menenangkan Michelle. Ada segulir air mata jatuh di pipinya. Aku tak mengerti. Segera saja kudekati Michelle, gadis yang ingin kunikahi itu. Aku tak tahan melihatnya menangis tersedu seperti ini. Tapi seakan dia tak melihatku, berlari mendekati mobilku. Ternyata ada banyak orang di sekeliling mobilku, menarik tubuh seorang lelaki muda yang bersimbah darah dari kursi depan mobilku. Aku heran, dan berjalan mendekat. Melihat Michelle yang masih terus menangis, juga ayahnya. Lalu aku melihat wajah itu, penuh darah, tapi aku masih bisa mengenalinya. Dia adalah aku�

Cintaku Seindah Bukit Bintang

Suasana kota Jogja di sore hari memang sangat mengagumkan. Banyak kendaraan lalu lalang dan para pedagang kaki lima di pinggir-pinggir pertokokan. Adis yang baru pertamakali keJogja masih terpesona dengan suasana di Jogja. Setiap sore ia berjalan-jalan ke Malioboro hanya sekedar melihat orang-orang yang ada disana. “ Kali ini kamu mo beli apa Dis?” Tanya Wilda teman satu kost nya. “ Gak tahu Wil, aku seneng aja jalan-jalan ke Malioboro! Apalagi kalau bisa ke Tugu Jogja!” Jawabnya sambil merapihkan tempat tidurnya. “ Ah, kamu Dis! Gimana mo ke Tugu? Kost kita aja tutup jam sepuluh!” “ Gimana kalo kita cari baju aja? Lumayan buat kuliah!” “ Dimana? Bringharjo udah tutup kali!” “ Udah! Kamu mau ikut nggak?” Tanpa pikir lagi Wilda akhrinya ikut Adis ke Malioboro. Adis adalah seorang mahasiswi semester awal di salah satu Universitas swasta yang cukup ternama di Yogyakarta. Walaupun letak kampusnya di daerah Bantul, tapi tak menyurutkan langkahnya pergi melihat indahnya Jogja. Perjalanan mereka kali ini tak seperti biasanya. Adis menemukan sesuatu yang selama ini menjadi keinginan Adis yang tak pernah terwujud. “ Kita kemana Dis?” tanya wilda. “ Mall Malioboro aja! Aku pengen es krim nih!” Ketika mereka tiba parkiran depan Mall Malioboro, tiba-tiba Adis melihat seseorang yang mengenakan jaket putih sedang memarkirkan motornya disebelah motor Adis bersama temannya. Dan orang itu tak asing bagi Adis. Cowok tinggi,putih, dengan badan yang tak terlalu kurus dan kaca mata yang dikenakannya membuat Adis sadar siapa yang ada di hadapannya. “ Kak Andi?” Kata Adis pelan. Cowok yang tadinya tak peduli siapa yang ada disampingnya tiba-tiba menoleh pada Adis. “ Adis?” katanya setelah melihat Adis. Dengan raut muka tertegun dan tak percaya ‘ God, dia masih kenal aku!’ “ Kamu Adis kan?” tanyanya sekali lagi. “ Eh, iya Kak! Ini beneran Kak Andi kan? Andi Aditya?” Tanya Adis tak percaya. “ Iya Adis! Kamu kuliah di Jogja?” “ Iya!” Akhirnya mereka berempat ngobrol di dalam Mall. “ Owh, jadi Kak Andi kuliah Di Semarang! Satu kelas sama kak Roni juga!” Roni adalah teman Andi yang baru dikenalkan pada Adis dan Wilda. “ Iya! Kebetulan kita lagi liburan. Rumah ku kan di Jogja, Andi katanya pengen jalan-jalan ke Jogja, so dia ikut aku kesini!” jawab Roni.Setelah pertemuan itu, Adis tak henti-hentinya senyum sampai tiba dikost dan membuat Wilda binggung. “ Kamu kenapa sih Dis? Dari tadi senyum-senyum sendiri!” “ Wilda! Kamu tahu nggak? Kak Andi itu cinta pertamaku! Waktu SMA dulu aku suka sama dia, tapi nggak pernah aku ungkapin, waktu dia kuliah aku nggak pernah tahu kabarnya lagi. Dan selama ini aku berdoa agar bisa ketemu dia lagi! Dan doaku terkabul Wil!” Jawab Adis sambil memeluk Wilda. “ Aduh! Lepasin! Sakit tahu!” “ Iya maaf! Habis aku seneng banget!” “ Hah! Itu toh alesannya! Ya emang dia cakep sih! Temenya juga tadi!” “ Kak Roni? Ah, manisan kak Andi! Dia lucu banget! Aku ketemu Nobitaku lagi!” “ Nobita?” “ Dia kan pake kacamata! Dulu aku panggil dia Kak Nobi!” Sudah sejak lama Adis memendam perasaan pada Andi. Pertemuan mereka dimulai ketika Adis duduk di bangku SMA. Andi sebagai kakak kelas Adis yang terkenal pintar disekolah membuat Adis jatuh hati pada pandangan pertama. Adis selalu mencoba untuk mengenalnya lebih jauh. Mencari tahu semua tentang Andi. Dan mereka saling mengenal ketika Andi hampir lulus dari sekolahnya dulu. Saat perpisahan sekolah, Adis tak mampu mengungkapkkan perasaan yang selama ini ia pendam, ia hanya bisa melihat Andi dari kejauhan dan yang membuat ia sakit, pada waktu itu Andi tak perduli sedikitpun pada Adis, karena Andi sudah punya pacar waktu itu.Seminggu Andi di Jogja, membuat rasa cinta yang dulu terpendam kembali bersemi. Bagi Adis, belum ada yang bisa menggantikan posisi Andi dihatinya walaupun hampir dua tahun mereka tak bertemu. Setiap hari mereka berempat mengunjungi tempat-tempat wisata di Jogja. Dari Alun-alun sampai parangtritis pun mereka kunjungi. “ Aduh, besok kemana lagi ya kak?” tanya Adis, ketika mereka beristirahat setelah dari Taman Sari. “ Kemana ya Dis? Kamu punya referensi gak Ron?” “ Aduh kemana ya Ndi? Aku juga bingung!” “ Gimana kalau besok malem kita nikmati Jogja dimalam hari!” sela Wilda. “ Terus kemana ?” Tanya Adis. “ Kita mulai dari bundaran UGM, cari makan disitu. Terus kita jalan-jalan aja ke Amplas, habis dari Amplas kita ke Kali Code terus kita langsung ke Tugu, foto-foto disana. Habis itu kita langsung ke Malioboro dan berhenti di VerddeBurg. Kalau mau lanjut lagi bisa ke alun-alun kan?” Terang Wilda. “ Ya ampun Wil!!! Terus kita pulangnya gimana??” Tanya Adis. “ Nggak usah pulang lah Dis! Katanya mau ke Tugu?” “ Iya Dis, Wilda bener! Lagian besok malming kan?” Sela Andi. “ Aduh! Gimana yah?” “ Paginya langsung ke Sunmor deh!” lanjut Wilda. Akhirnya Adis menyerah karena suara mereka terlalu banyak untuk ditolak. Apalagi bersama Andi. Apapun akan Adis lakukan demi cintanya. Malam yang dinantipun tiba. Adis yang naik motor bersama Andi merasa bahagia malam itu. ‘ Ya Allah! Ini bener kan ? gak mimpi? Dari dulu aku sayang kamu kak!’ katanya dalam hati. “ Hey, kok diem?” tanya Andi. “ Eh, gak kok kak! Bingung mulai dari mana!” “ Makasih ya Dek, udah nemenin kakak selama di Jogja!” “ Iya kak! Kapan lagi bisa ketemu kakak! Makanya jangan lost kontak dong kak!” “ Iya, maafin kakak! Eh, kok dulu kita jarang ngobrol gini yah? Kamu tuh asyik loh kalo diajak ngobrol!” “ Ah, kakak aja yang sibuk sendiri! Apa lagi kalau udah sama mba Dess….!” kata-katanya terhenti. “ Kakak masih sama dia?” “ Siapa? Dessy? Ya nggak lah! Sekarang kan sama kamu! Hehheh..” “ Ah, kakak ni!” Sampai juga mereka di daerah UGM. Banyak sekali pedagang makanan disana. Dari lesehan yang mahal sampai yang murah pun ada. Tanpa pengetahuan makanan yang mereka miliki, mereka asal saja memilih lesehan disana. Tapi untungnya, lesehan yang mereka datangi enak dan hargannya cukup terjangkau. Setelah selesai mereka makan, mereka langsung tancap gas ke arah jalan Solo. “ Ini ke Amplas kan Dek?” “ Iya,!” jawab Adis. “ Disana ada apa aja Dek?” “ Banyak dong kak! Ya kalau di Semarang kayak Citra Land kali! Btw, tumben panggil ‘Dek’?” “ Owh,,,ya karena kamu udah kayak adek kakak sendiri! Adek ku yang manis, baik, pinter juga cerewet!” Jawabnya sambil tertawa lebar. “ Hah? Cerewet?” .’ ternyata dia Cuma nganggep aku adek! Tuhan. Gimana nih?’ Sesampainya di Ampalas, mereka langsung menuju arena permainan TimeZone. Ketika berjalan, Andi menggandeng tangan Adis layaknya sepasang kekasih. Jantung Adis berdebar sangat kencang, dia hanya bisa berjalan terpaku. Wajahnhya pucat, tangannya dingin tak tahu apa yang harus ia lakukan. “ Hmmm…wah ada yang baru jadian nih!” Ledek Roni. “ Iya sampai nggak inget kita!” Sela Wilda. Sesaat Andi melepaskan pegangannya. “ Apaan sih kalian?” Jawab Andi. Adis masih terdiam. “ Jadiaan juga gak apa-apa kok Kak! Adis juga Jomblo! Hahah” Kata Wilda. “ Ya emang gak apa-apa! Iya kan adek ku sayang!” Jawab Andi sambil mrangkulkan tangannya di pundak Adis sambil berjalan. Adis tak bisa berkata apapun. Ia makin gugup dan jantungnya berdetak lebih kencang. “ Cieeeee!” Ledek Roni dan Wilda. Saat tiba diarena permainan. Mereka langsung menuju ke permainan basket. Tim Adis dan Andi melawan Tim Roni dan Wilda. Setelah puas bermain, mereka melanjutkan melihat-lihat seisi Mall yang sangat besar itu. Ketika tiba di toko pernak-pernik. “ Eh kak! Lihat deh lucu banget nih gantungan Hpnya!” Kata Adis, sambil menunjukan sepasang gantungan HP dengan gambar bintang. “ Kok Bintang sih Dek? Kenapa gak yang hati?” “ Nggak suka! Aku lebih suka bintang, karena bintang akan tetap bersinar dilangit!” “ Ya udah, beli yang ini!” Andi mengambil gantungan itu dari tangan Adis dan membayarnya di kasir. Setelah mereka keluar dari toko tersebut, Andi memasang gantungan itu di HP nya dan memberikan bagian dari bintang itu pada Adis. “ Aku nggak minta kakak beli ini!” kata Adis sambil memasangnya di Hpnya. “ Nggak apa-apa! Buat kenang-kenangan! Lucu yah kalo disatuin jadi bintang utuh, bisa nyala lagi!” “ Ya ampun! Kalian so sweet banget sih? Udah, jadian aja!” Kata Roni sambil tertawa. “ Iya nih! Jadian aja sih!” lanjut Wilda. “ Udah dek, nggak usah didengerin!” ‘ I hope so kak!’ Kata Adis dalam hati.

Previous Older Entries