Sudah Puas, Bella?

“Akhirnya pergi juga…” seorang gadis memandangi ayah dan ibunya yang berangkat bersama mobil keluarga mereka. Ia menunggu saat-saat rumahnya sepi, tinggal ia dan adiknya. Ia langsung menutup pintu rumah, semuanya termasuk jendela rumah yang bentuknya kuno itu. Catnya yang sudah banyak yang mengelupas, beberapa sarang laba-laba di sudut-sudut dindingnya.
“Kenapa ditutup, Kak? Papa dan mama ke mana?” adiknya bertanya.
“Diam aja, Dik!” gadis itu menyuruh si adik diam, dan membuat adiknya penasaran. Ia melangkah cepat menuju kamarnya yang terletak agak di belakang rumah, keadaan rumah itu selalu gelap walaupun di siang hari. Kamar gadis itu memang lebih gelap dibanding kamar-kamar lainnya di rumah itu. Lihat saja meja makan yang kosong itu, sesekali kursi di dekatnya bergerak, horor, memang. Tapi itulah kehidupan rumahnya.
Pintu kamarnya agak sedikit rapuh, jendela kamar bergoyang walau tak ada angin, tapi mungkin memang sebenarnya harus secepatnya diganti.
Adiknya mengejar langkah kakaknya yang terburu-buru itu.
“Kak, Kakak kenapa? Aneh sekali!”
“Ssssttt….” si kakak menyuruh adik diam, menandakan keseriusan yang amat sangat.
“Kkk… kenapa, Kak?” adiknya bertanya polos.
“Sini, ayo Galih ikut saja ke dalam!” ajak si kakak.
Adiknya menurut. Ia masuk ke kamar kakaknya yang sekali lagi gelap dari biasanya. Beberapa pakaian digantung sembarangan di belakang pintu, ranjang tua yang letaknya agak di pojok dan lemari kuno di sebelahnya yang tak pernah dibuka beberapa tahun ini menjadi latarnya. Di atas ranjang itu terlihat selimut berwarna merah marun, yang kusut seperti tak pernah dilipat. Adiknya sudah paham dengan kakaknya yang berantakan itu.
“Ada apa, Kak?”
Kakaknya tidak menjawab. Aneh, kakaknya mengambil selimut berwarna merah marun itu dan melipatnya. Adiknya melihatnya dengan rasa tak percaya. Apa yang sebenarnya terjadi pada kakaknya hari itu?
“Ke sini,” si kakak mengajak adiknya untuk melihat apa yang ia letakkan di atas ranjangnya. Kertas.
“Kertas ini untuk.. apa?”
“Untuk berteman..” kakaknya tersenyum.
Adiknya menjadi sedikit takut. Kakaknya memang benar-benar sangat aneh.
“Untuk berteman bagaimana, Kak?”
Kakaknya tersenyum lagi. Tampak dari senyumnya ada aroma jahat. Hawanya seperti iblis. Namun adiknya belum dapat menerka kejadian apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Lihat ini….. Lih,” si kakak menulis di kertas yang sudah disiapkannya di atas ranjang, di bawah selimut merah marun tadi. Adiknya memperhatikannya menulis 26 huruf-huruf abjad yang sewaktu TK dulu ia pelajari. A.. B.. C.. sampai yang terakhir Z. Dilanjutkan angka mulai dari 0..1..2..3.. sampai 9.
“Kak, ini apa?” adiknya mencoba bertanya.
“Diam dulu!!” si kakak agak membentaknya. Si kakak pun melanjutkan menggambar di atas kertas tipis yang agak kusut itu. Adalah gambar 3 persegi panjang yang bentuknya seperti batu nisan. Juga gambar sebuah rumah kecil dengan sumur di sebelahnya. Menyeramkan.
“Ini kuburan..” katanya. “Dan ini rumah teman kakak.”
“Seram ya, Kak..”
“Nah, Dik, sekarang coba kamu bilang…” pinta si kakak sambil membisikkan kata-kata aneh ke telinga adiknya.
Si adik masih menurut. Ia ucapkan kata-kata yang dipinta kakaknya. Dengan beberapa detik yang terasa semakin cepat…
Muncul bayangan sesosok wanita. Si adik bisa melihatnya lebih jelas. Bayangan itu tersenyum. Senyumnya jauh lebih mengerikan dibanding hantu wanita ketika ia menonton film horor di ruang tengah.
Hembusan nafas si adik terdengar jelas. Ia sangat terkejut. Tapi ia tak mampu bergerak dari tempat yang mengerikan itu. Ia tak mampu melakukan apa-apa. Tangannya beku. Kakaknya melihat bayangan itu dengan senyum yang sama mengerikannya.
Pelan-pelan si adik mendengar gumam kakaknya pada dirinya sendiri.
“Berhasil.”
Si adik memeluk kakak perempuannya dengan erat.
***
Bangunan sekolah yang bertingkat 3 itu tampak seperti istana tempat para makhluk penghisap darah tinggal. Atap-atapnya beberapa ada yang belum diperbaiki, saat itu awan seperti akan jatuh menimpa bumi, dengan warna pekatnya yang membawa kegelisahan dan ketakutan pada sore itu. Semuanya terasa lebih gelap, begitu yang ada di pikiran Aina, gelap, dan gelap. Ia sedikit ketakutan dengan keadaan di sekitarnya, pohon beringin tempat ia berteduh saat ini seperti menahannya untuk pulang. Ia berpikir ulang. Apakah ia akan menembus hujan dan membiarkan awan mengerahkan titik-titik tajamnya itu membasahi tubuhnya? Atau ia tetap tinggal bersama akar-akar beringin yang menggantung? Ketika akar-akar itu bergoyang sendiri meski angin tak menggodanya?
Sesekali ia tengadahkan tangannya ke langit, seperti bertanya kepada sore, apakah hujan akan berhenti? Ia perhatikan sebuah payung yang seakan disediakan Tuhan di depannya. Di dekat pos satpam yang tidak dijaga. Akhirnya ia ambil payung itu dan mencoba berlari menantang hujan. Ia harus keluar dari jebakan hujan sore ini.
Ia mulai melangkahkan kakinya menerpa air hujan yang ganas. Petir seperti mencoba menghentikan perjalanannya untuk pulang. Dengan mata sesekali terpejam ia tetap mencoba melangkahkan kakinya dan menghentikan ketakutannya. Ia harus pulang, dan ia memang harus pulang sore ini. Percikan air karena langkahnya tak akan menghentikan keinginannya untuk pulang. Waktu seakan berjalan lebih lambat dari biasanya, belum sampai satu per sepuluh perjalanan pulang ditempuhnya. Masih di depan sekolah, tapi mimpi buruknya ini seakan sudah berjalan selama seratus tahun. Hingga akhirnya..
“Hei, Galih! Kau mengagetkanku saja!!” seru Aina ketika Galih menyambar bahunya diam-diam. Galih menggunakan payung berwarna hitam untuk melindunginya dari hujan, seperti payung kematian.
Galih tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. Ia menatap Aina.
“Gal, kau kenapa sih? Kau mengagetkanku dan kau tidak menjawab apa-apa, dan….” kalimat Aina terpotong ketika menyadari sesuatu, “Kau tidak pulang?”
“Belum,” jawabnya singkat. Suasana menjadi berbeda.
“Jadi? Kenapa? Kenapa belum pulang?”
“Aku mau main,” ucap Galih. “Aku mau main sama kamu.. di sini..”
“Maksud.. maksudnya??”
“Aku mau ngajak kamu main…”
“Aku tidak mengerti!”
“Ayo….!!” Galih tiba-tiba menyambar tangan Aina yang masih merasa ngeri dengannya. Ia mengajaknya masuk lagi melewati gerbang sekolah.
“Galih! Galih! Hei! Gal! Kau mau ajak aku ke mana?”
“Ayo, main.”
“Hoi! Aku mau pulang, Gal!” Aina melepaskan tangannya dari cengkeraman Galih. “Sudah! Aku tidak mau main!”
“Jangan pulang dulu, Na,” Galih menatapnya. Tidak seperti tadi, ia yang memaksa Aina untuk ikut dengannya kini berjalan sendiri ke arah kelas mereka yang melewati koridor gelap di mana lampu yang biasa menjadi penerangnya tidak menyala. Meninggalkan Aina yang masih kebingungan di belakangnya.
“Galih? Hoi! Kau mau kemana?”
Galih tidak menjawab. Ia terus berjalan.
Aina mengikutinya, ia ingin tau apa yang terjadi pada Galih. Dan Galih mau main apa? Bersamanya? Tapi mengapa ia tiba-tiba berubah jadi meninggalkannya? Karena penasaran, ia terus mengikuti Galih sampai ke kelas. Ia ikut masuk ke dalam kelas mereka yang di dalam pikiran Aina lebih mengerikan dibanding sebuah kamar mayat. Itu bukan Galih biasanya.
“Aina…” kata Galih sambil tersenyum. Senyumnya tidak seperti biasa.
“Gal, emangnya mau main apa sih?”
“Ini, aku mau ajak kamu main sama temanku..”
“Te.. teman?”
Galih tersenyum lagi. Ia duduk di bangkunya yang terletak di pojok kelas. Di atas mejanya, terletak pensil, kertas, dan beberapa benda aneh yang tidak Aina ketahui. Aina menghampirinya pelan-pelan. Ia melihat Galih yang ekspresinya tidak seperti biasa. Benar-benar tidak biasa. Pada kertas di atas meja Galih itu, tertulis 26 huruf, A sampai Z dan angka 0 sampai 9, 3 buah persegi panjang dan gambar sebuah rumah kecil dengan sumur di sebelahnya. Mengapa Galih yang biasanya ramah malah berubah jadi dingin dan mengerikan begini?
“Ini gambar apa?”
“Yang ini….” Galih menunjuk gambar rumah itu, “… ini rumah temanku,” lalu ia menunjuk 3 persegi panjang. “Dan ini rumah temanku sekarang.”
“Kok seperti…..” pertanyaan Aina di potong Galih.
“Kuburan? Iya, ini kuburan, Na.”
Aina terdiam.
“Kamu mau main sama temanku? Yah, aku sendiri tak tahu siapa dia.”
Aina masih tidak mengerti.
“Yang jelas dia sudah meninggal,” ucap Galih.
“Aku masih tidak paham!! Ini apa!”
Galih mengucapkan kata-kata aneh, “Little Angel, Little Angel, Little Angel..”
“Kata-kata apa itu?”
“Little Angel, Little Angel, Little Angel…”
“Gal?”
“Little Angel, Little Angel, Little Angel…”
“Galih… ada apa…”
Tiba-tiba pensil yang dipegang Galih saat itu bergetar. Galih tersenyum.
“Temanku datang!”
“Mana??!”
Galih menunjuk tangan kanannya yang memegang pensil, dengan tangan kirinya. “Ini temanku.”
Aina mendekat dan duduk di sebelah Galih, ia masih penasaran ada apa sebenarnya. Ia menyentuh pensil yang bergerak sendiri di tangan Galih itu dengan telunjuknya dan ia memang merasakan bahwa pensil itu tidak sengaja digerakkan Galih untuk menakut-nakutinya. Pensil itu memang bergerak sendiri.
“Kok bisa?”
Selama beberapa menit meraka berada dalam posisi itu. Aina memperhatikan pensil itu sampai akhirnya pensil itu tenang.
“Nah, sekarang, kita tanya… siapa namanya,” ucap Galih sambil tersenyum pada Aina.
“Siapa nama kamu?” tanya Galih kepada pensil itu. Aina masih bingung.
Pensil itu mengarahkan ujungnya yang runcing ke huruf yang tertulis di kertas itu.
“B-E-L-L-A”
“Salam kenal ya, Bella,” ujar Galih sambil tersenyum. Pensil itu mengarahkan runcingnya lagi. “I-Y-A” sebagai jawaban.
“Kamu tinggal di mana?” Galih bertanya lagi. “D-I”
“Di? Maksudnya di mana?”
Pensil yang dipegang Galih menunjuk ke arah salah satu persegi panjang yang digambar Galih dengan kasar. Itu jelas menunjukkan tempat tinggal Bella.
“Maaf ya, Bel. Aku gak bermaksud untuk menyinggungmu.”
Aina menatapi Galih dan pensilnya yang aneh itu. Ia penasaran, bukannya takut ia malah menjadi betah di tempat itu. Bella?
“Coba kamu yang tanya, Na,” pinta Galih.
“Hah? Oh, baiklah..”
Aina akhirnya bertanya.
“Kamu meninggal kenapa?” tanya Aina, pandangannya ke arah pensil itu.
“S-U-I-C-I-D-E” arah pensil itu.
“Suicide? Maksudnya bunuh diri? Kenapa?”
Galih dan Aina sama-sama mengeja huruf yang diarahkan pensil itu. “C-I-N-T-A”
“Cinta mu kenapa?” tanya Aina lagi. Ia semakin penasaran dengan teman Galih yang ia sudah duga adalah hantu itu.
Pensil itu tidak bergerak. Selama beberapa detik terlewat, tak ada jawaban apa-apa.
“Yah, Bella nya pergi,” ucap Galih pada Aina.
“Cepat sekali??”
“Mungkin dia mau istirahat.”
“Kau tau permainan itu dari siapa?” tanya Aina.
“Dari kakak..”
Aina menatap Galih yang menunduk. Galih kembali dengan keramahannya, tidak seperti tadi yang mengerikan. Di kelas mereka yang gelap itu, dengan hujan yang masih belum berhenti, Aina mendapatkan sesuatu yang baru. Sesuatu yang hidup di alam lain. Sesuatu yang menantang dan membuatnya kagum. Ia menjadi sangat tertarik dengan dunia lain, dunia Bella. Ia melupakan keinginannya untuk pulang.
***
Beberapa bulan setelah kejadian itu, Aina sudah paham dengan dunia Bella. Galih bercerita banyak tentang teman-teman hantunya dan mereka sangat akrab. Semakin lama mereka semakin mudah dalam berkomunikasi. Mereka tidak membutuhkan media kertas dan pensil lagi. Mereka sudah terbiasa dengan banyak hantu dan sekarang mereka sudah mampu berbicara langsung dengan si hantu, meski tak dapat melihat bayangannya langsung tapi mereka bisa merasakan keberadaannya. Galih yang sudah mengetahui sosok hantu, teman kakaknya dulu, sesekali bisa melihat sosok teman hantunya, walau tidak sering.
Di suatu siang Aina sedang bersama Bella bercerita-cerita, mereka duduk di bawah pohon beringin di belakang kelas mereka.
“Bel, kamu belum jawab pertanyaan kami dulu… kamu meninggal karena cinta, cinta kamu kenapa?”
“2 tahun lalu, orang yang aku cintai…. pergi.”
“Ke mana?”
“Aku tidak tahu.”
“Lalu, kenapa kamu bunuh diri?”
“Aku didorong seseorang dari lantai 3 sekolahku. Aku tidak tahu. Kakiku patah dan aku lumpuh. Orang yang dulu aku cintai dan yang aku tahu dia mencintaiku pergi dan setelahnya tidak ada yang mengerti aku. Aku sendiri dan aku tidak merasakan pentingnya hidupku. Aku mengiris tanganku sendiri karena aku tau itu yang terbaik. Lebih baik aku mati, memang. Tapi aku menyesal.”
“Bella, aku turut bersedih.”
“Tapi aku senang karena aku sudah menemuinya lagi.”
“Siapa? Orang yang kau cintai itu? Di sini?”
“Bukan. Hanya penggantinya.”
“Siapa, Bel?” Aina penasaran. Ia cemas dan gelisah, takut bahwa Galih lah orang yang dimaksud Bella.
“Tenang, bukan Galih. Aku tau kau suka dia,” ucap Bella pelan. Aina menghela napas panjang. Bella melanjutkan, “..aku suka Mario.”
Aina terdiam. “Mario?”
“Ya, Galih mengenalkan Mario padaku dan aku sangat senang. Mario sangat baik padaku dan mengerti aku. Tapi ia tak bisa selalu bersama denganku. Ia terlalu sibuk, dan aku menyayanginya.”
“Tapi kenapa harus Mario?”
“Kau tak suka?” tanya Bella.
“Bukan begitu, aku hanya takut..”
“Tidak perlu takut…” kata Bella perlahan.
Aina berpikir keras. Bella menyukai Mario dan ia tak boleh membiarkan ini berkelanjutan. Ia sadar, akhir-akhir ini Mario sering absen dari kelas dan jatuh sakit. Apa ini akibat dari hubungannya dengan Bella? Ia harus bicara pada Galih.
***
“Gal, aku mau bicara.”
“Soal apa?”
“Bella.”
“Ada apa dengan Bella?”
“Apa kau percaya ini? Bella suka pada Mario dan ini tidak boleh terjadi,” Aina menyampaikan pada Galih dengan penuh kekhawatiran.
“Bella suka Mario?” tanya Galih.
“Ya! Dan aku tidak percaya kau juga mengenalkan Mario padanya!” seru Aina dengan nada kesal.
“Bella yang minta padaku untuk mengenalkan Mario padanya, dan Mario pun juga tidak keberatan,” jelas Galih.
“Tapi apa kau tidak sadar? Mario sering jatuh sakit akhir-akhir ini!”
“Jadi kau pikir Bella yang menyebabkan ia jadi begitu?”
“Ya! Bella terlalu menyayanginya dan kupikir ia selalu ingin dekat-dekat Mario!”
Galih berpikir. Lalu ia menjawab, “Baiklah aku tanya pada Mario.”
***
“Hantu wanita itu selalu menggangguku dan aku tidak suka!” Mario mengucapkannya lantang pada Galih. Saat itu ia terbaring di ranjangnya.
“Jangan bicara seperti itu! Nanti Bella tahu! Lalu kenapa kau membiarkan dia mengganggumu?” kata Galih sambil berbisik.
“Aku tak mau punya masalah dengan dunia hantu! Aku tidak mau, dan aku ingin lepas dari dia!”
“Jangan-jangan Bella ada di dekatmu dan dia…”
“Dia tidak akan tahu, aku minta dia tidak mendatangiku untuk beberapa waktu karena aku punya banyak urusan.. dia akan menurut padaku.”
“Kau membohonginya? Kau malah akan dapat masalah besar!” Galih memperingatkannya.
“Lalu bagaimana denganmu sendiri? Kau tak takut dia mengikutimu sekarang dan berada di sampingmu, huh?”
“Kurasa dia tak akan mendatangi aku dan Aina jika kami tak memanggilnya.”
“Kau pintar sekali. Tolong minta dia jangan mendatangiku lagi, aku merasa terganggu dan aku tidak bisa sembuh jika begini terus..”
Galih berpikir. Agak berat, ia menjawabnya.
“Akan aku usahakan.”
***
Galih mengkonfirmasikan semua itu pada Aina. Mereka merencanakan akan mengatakan semuanya pada Bella. Akhirnya Galih dan Aina pun memanggil Bella. Mereka membicarakan masalah Mario.
“Bella, kami ingin menyampaikan pesan Mario padamu,” Aina memulai.
“Apa?”
“Mario akhir-akhir ini selalu sakit. Ia juga tidak bisa konsentrasi pada sekolahnya. Ia menyampaikan masalahnya padaku dan ia bilang…” kalimat Galih terpotong.
“Ia bilang ia mencintaiku?” suara Bella menunjukkan kesenangannya.
“Bukan, ia bilang, ia tak ingin dekat denganmu lagi. Ia mau sembuh, Bel,” jelas Galih.
“Tapi ia bilang padaku ia senang berteman denganku.”
“Maafkan Mario, ia tak ingin membuatmu kecewa.. ia sadar bahwa ternyata kedekatanmu dengannya membuat kondisi kesehatannya tidak baik,” lanjut Aina.
“Apa benar Mario begitu?”
“Maafkan Mario, Bel..” ucap Galih.
“Jadi ia tak mau dekat denganku?” keluh Bella.
Galih dan Aina terdiam.
“Padahal aku sudah berusaha menyayanginya..” suara Bella terdengar menyedihkan.
“Mungkin bukan dengan cara itu, Bel..” bujuk Aina.
“Baiklah, aku tidak akan dekat Mario lagi…” ucap Bella. Galih dan Aina lega. “Tapi aku mau pengganti Mario…”
Galih dan Aina menatap satu sama lain.
“Siapa?”
“Aku mau Galih.”
“Galih?”
***
Saat jam istirahat, Aina hanya menatap sedih ke arah teman-temannya yang asyik bermain. Teman-temannya bercanda tawa tanpa mengetahui apa yang terjadi pada Galih sebenarnya. Yang mereka tahu Galih pindah ke sekolah lain karena ikut orang tua dan kakaknya. Mereka tidak tahu Bella, juga tidak merasakan kejanggalan dengan kematian Mario. Yang mereka tahu Mario meninggal karena penyakit kankernya. Tapi Aina yakin itu adalah perbuatan Bella. Keluarga Galih pun tak diketahui kabarnya. Ia sudah coba mencari informasi tentang keberadaan Galih, kakaknya dan kedua orang tuanya, tapi tidak memberikan hasil. Ia sungguh menyesal mengapa ia membiarkan Galih menerima permintaan Bella.
Oh, sudah lama sekali ia tak bertemu Galih. Ia sangat merindukannya. Ternyata memang tidak baik pada akhirnya. Ia sungguh menyesal tidak memisahkan Galih dari dunia Bella dan justru ikut dalam permainan itu. Ia sangat menyesal. Kini dia benar-benar merasakan apa yang Bella rasakan dulu hingga membuatnya ingin mati saja.
“Sudah puas, Bella?”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: